stupid direction
‘Stupid’ Direction
Ini adalah kejadian yang menggelikan kalau saya mengingatnya, meski di saat yang berbeda. Kejadian ini terjadi di kelas filsafat di suatu kampus.
Arahan 1.
Dosen: Coba kalian pejamkan mata kalian dan bayangkan bahwa kalian tidak mempunya tubuh, lalu jawab pertanyaan saya.
Guru itu lalu berjalan ke kursi mahasiswa-mahasiswa dan mulai menanyai satu persatu. Gadis imut yang tak biasa berkerudung dan dipaksa berkerudung di kampus Islam mendapat giliran pertama.
Dosen: Siapa kamu ? katanya.
Gadis itu tersenyum-senyum sambil mengrenyitkan dahi dan matanya, lalu menjawab: Aku adalah…boneka!
Teman-temannya pun ketawa dan nam[pak kekecewaan di wajah dosen itu. Lalu dia mendekati cowok yang senyum-senyum mendengar jawaban itu.
Dosen: Pertanyaan yang sama, Siapa kamu ?
‘Superman’, jawab cowok itu. Dosen Nampak kebingungan dan mencari mangsa yang lain. Mahasiswa ketiga ternyata menjawab dengan: Saya dokter.
Dengan putus asa lalu dosen itu maju ke depan dan menjelaskan, ‘kalian jawabnya biasa aja. Jangan aneh-aneh begitu. Jawab siapa nama kalian…!’
Mahasiswa-mahasiswa itu Nampak kebingungan dan ada yang membuka mulutnya lebar-lebar yang berbunyi: Oo…. Tapi mata kosongnya menunjukkan ketidak-pahamannya.
Its stupidity.
Arahan itu sebenarnya untuk mengarahkan mahasiswa untuk mengakui sebuah konsep filsafat yang telah menjadi dogmatis dalam kampus itu, yaitu: bahwa ada substansi non materi, terutama yang disebut dengan ‘Diri’ atau ‘Aku’ dalam tiap orang.
Ternyata arahan yang dimaksudkan agar dogma itu itu masuk dalam otak mahasiswa dengan bentuk eksperimen mahasiswa sendiri ternyata gagal dalam prakteknya. Lalu terpaksa bentuk dogma biasa dimasukkan oleh dosen itu. Meski dengan tantangan siapa yang bias menolak dogma itu.
Arahan 2.
Dosen: Apa definisi atau yang kamu pahami tentang ‘beruntung’ atau lucky ? tanyanya ke mahasiswa yang duduk tepat didepannya.
‘Lucky itu adalah mendapatkan hasil bagus yang tidak dipertimbangkan’ jawab mahasiswa cerdas itu.
Dosen itu menundukkan kepala beberapa saat lalu mengarahkan matanya kepada mahasiswa lain dan bertanya, ‘Apa menurut kamu ?’ sambil menunjuk gadis berkerudung, berkacamata, dan berpakaian skesi.
Gadis itu bergerak-gerak seperti kebingungan lalu tersenyum dan menjawab, ‘Beruntung itu ya.., mendapatkan keuntungan yang tidak dinyana-nyana.’
Dosen itu Nampak kecewa dan lalu menjelaskan, ‘bla bla, bla……’
Its stupidity
Arahan itu sebenarnya untuk memberikan sebuah konsep tentang keberuntungan dalam aliran filsafat tertentu yang telah menjadi dogma di kampus itu. Dogma itu adalah bahwa keberuntungan itu tidak ada/tidak nyata.
Dogma itu sebenarnya didasarkan pada kepercayaan pada kausalitas atau bahwa sesuatu terjadi pasti disebabkan oleh sesuatu. Dan ;ucky dianggap sebagai sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Jadi dalam dogma itu diajarkan bahwa lucky itu mustahil terjadi.
Arahan ternyata tidak mengarah kesitu.
