Warna-warni mukhotobat dan khitob dalam al-Quran

Warna-warni mukhotobat dan khitob dalam al-Quran ada 40.

1-      Khitob ‘am tapi yg dan yg dimaksud umum. Ada banyak dalam Quran, Contoh: al-anfal-75 (إن الله بكل شئ عليم), yunus-44 (ألله الذي خلقكم ثم رزقكم ثم يميتكم ثم يحييكم )

2-      Khitob khos yang dimaksud khusus. Contoh: ali imron-106 (أكفرتم بعد إيمانكم) al maidah-67  (يأيهاالرسول بلغ ما أنزل إليك من ريك).

3-      Khitob khos yang dimaksud umum. Contoh: ath-thalak-1 (يأيهاالنبي إذا طلقتم النساء)khitobnya dimulai kepada Nabi saw tetapi yang dimaksud adalah semua orang yang memiliki hak untuk menalak. Surat al-ahzab-50 (يأيهاالنبي إنا أحللنا أزواجك التي ءاتيت أجورهن……..خالصةً لك من دون المؤمنين). Abu Bakar Ash-Shoirofi berkata: permulaan khitobnya untuk Nabi saw, tetapi ketika sampai pada perempuan yang memberikan dirinya untuk nabi, خالصة لك bisa diketahui bahwa perkataan sebelumnya untuk nabi dan juga untuk selain nabi. Dan surat An-Nisa- 102 (وإذا كنت فيهم فأقمت لهم الصلاة ), Abu Yusuf mengarahkan ayat ini pada dhahirnya karena berpendapat bahwa salat khauf itu termasuk salah satu kekhususan Nabi saw. Jumhur ulama menjawab pendapat ini dengan: bahwasanya kata فيهم bukan sebagai syarat, tapi sebagai sifat sebua keadaan. Walaupun yang asli khitob itu untuk orang tertentu tapi kadang keluar dari asal dengan tujuan untuk meng-umumkan. Kadang juga untuk tujuan mencela keadaan seperti dalam surat Saba’-51. Kadang ada perbedaan dalam menentukan maksud umum dari suatu khitob yang berbentuk khusus, seperti surat as-sajdah-12.

4-      Khitob ‘am yang dimaksud khusus. Ulama berbeda pendapat tentang keberadaan jenis ini dalam Quran. Sebagian mengingkari karena makna yang mengharuskan kekhususan itu setingkat dengan istitsna’ muttashil dengan menggunakan  kalimat, seperti dalam surat al-‘ankabut-14 (فلبث فيهم ألف سنة إلا خمسين عاما). Menurut pendapat yang shahih jenis ini itu terdsapat dalam Qur’an, seperti surat ali-imran-173 (ألذين قال لهم الناس إن الناس قد جمعوا اكم), keumuman ayat ini mengharuskan semua manusia masuk dalam dua kata ألناس dalam ayat ini, tetapi kenyataannya yang dimaksud adalah sebagian. Soalnya orang yang memberi kabar itu bukanlah orang dikabari; yang dimaksud dengan kata الناس yang pertama adalah Nai’m bin Sa’id ats-tsaqafi dan kata yang kedua adalah Abu Sufyan dan teman-temannya. Al-farisi berkata: Diantara yang menguatkan bahwa yang dimaksud dengan kata ألناس yang kedua adalah satu orang, adalah ayat 175 dari surat ali imran(إنما ذالكم الشيطان يخوف أولياءه), jadi isyarat dengan kata ذالكم itu tertuju pada satu orang yang khusus. Apabila makna dari kata الناس yang kedua itu banyak dan umum, maka kata isyaratnya akan berupa إنما الشياطين. Ini adalah petunjuk yang sudah jelas. Tetapi  kadang peng-khususannya terdapat di akhir ayat, seperti surat an-nisa-4 (وأتواالنساء صدقاتهن نحلة), kata النساء disini umu meliputi yang baligh, anak kecil, sehat akal, dan juga gila. Kemudian di akhir ayt dikhususkan perempuan yang baligh dan berakal sehat saja (فإن طبن لكم عن شيء منه نفسا). Juga seperti dalam surat al-baqarah-228. Kadang pengkhususan juga terdapat di awal ayat seperti surat al-baqarah 229. Kadang juga diambil dari ayat lain, seperti surat al-anfal-16 (ومن يولهم يومئذ دبره )ini umum buat peperangan yang orang muslim berjumlah sedikit atau banyak, tetapi dalam ayat al-anfal-65, jumlahnya dibatasi 20 banding 200. Contoh lain di surat al-maidah -3 yang dikhusukan dengan ayat 4 dan ayat 96 tentang keharaman hewan mati tanpa sembelihan syar’i, tapi dihalalkan khusus yang dibunuh hwan pemburu dan hewan laut.

# Tambahan tentang umum dan khusus.

Terkadang ada dua kalimat yang sambung, tapi salah satu umum dan yang lain khusus. Seperti ungkapan kita terhadap orang yang memeberi uang pada Zaid: Berilah Umar, klo Lu gak ngasih berarti Lu gak sedekah. Maksudnya kalau Lu gak ngasih Umar, berarti Lu dianggep gak ngasih Zaid juga. Syat Qur’an yang sesuai dengan hal ini adalah surat al-maidah-67 (بلغ ما أنزل اليك من ربك) yang khusus perintah saat itu dan kalimat dalam setelahnya dia ayat yang sama bersifat umum (فما بلغت رسالته) yang dimaksud adalah semua apa yang diperintahkan. Jenis ini banyak juga dalam Qur’an.

# hal penting berkenaan dengan ayat diatas.

Abu Bakar ar-Razi berkata: jadi kalau ada perintah tentang hukum yang berkenaan dengan kebutuhan umum, nabi pasti sudah menyampaikannya. Dan penyampainnya harus pada derajat mutawatir, kalau tidak maka bisa dipastikan bahwa haditsnya tidak tetap.

Ungkapan ar-Razi tersebut tidak benar, karena hanya Qur’an saja yang harus dalam keadaan mutawatir. Kalau hukum-hukum lain tidak seperti itu.

5-      Khitob Jins: seperti contoh kalimat يأيهاالناس, maka yang dimaksud adalah semua jenis manusia, tidak semua individu. Kalau tidak begitu maksudnya, maka sudah jelas bahwa selain mukallaf itu tidak masuk dalam khitob ini. Khitob jins itu banyak terjadi ketika mengkhitobi penduduk Makkah. Dan ahli Ushul menguatkan pendapat bahwa Nabi saw masuk dalam khitob dengan kalimat يأيهاالناس. Ar-Raghib berkata: Kata الناس kadang disebut untuk menunjukkan orang-orang yang terhormat saja secara majaz, tanpa meliputi semua yang terkandung kata itu. Hal itu terjadi ketika yang dipertimbangkan adalah makan menjadi manusia, yaitu keberadaan akal dan semua kemampuan yang khusus dimiliki manusia. Seperti dalam ayat 13 dari surat Al-baqarah (أمنوا كما آمن الناس ), maksudnya sebagaimana diperbuat oleh orang-orang yang mempunyai karakter menjadi manusia. Begitu juga ayat 54 dari surat An-Nisa. Kadang dari khitob Jins ini ada yang dimaksudkan spesies (nau’, bukan jins) manusia itu sendiri, seperti dalam Al-Baqarah-251 (ولولا دفع الله الناس بعضهم ببعض لفسدت الإرض)ز

6-      Khitob nau’ (speies). Seperti kalimat يا بني إسراءيل dan yang maksudnya adalah Bani Ya’qub. Khitob ini seperti ini digunakan untuk tujuan yang sudah disebutkan dalam Bab 6 tentang pengetahuan tentang mubham.

7-      Khitob ‘ain (nama). Contoh al-baqarah- 35 يآ أدم اسكن. Dalam Qur’an tidak terdapat panggilan dengan menggunakan nama Muhammad/ يا محمد tetapi dengan يأيهاالنبي dan أيها الرسول karena menghormati pada Nabi saw.

8-      Khitob pujian. Seperti contoh kalimat يأيها الذين ءامنوا, ini terjadi pada penduduk Madinah yang telah beriman dan berhijrah, untuk membedakan mereka dengan penduduk Makkah. Tadi juga sudah disampaikan bahwa khitob dengan يأيها الناس itu untuk penduduk Makkah. Dan bahwa setelah khitob dengan يأيها الناس itu biasanya ada perintah tentang iman. Sedangkan setelah khitob يأيها الذين ءامنوا itu biasanya perintah atas perincian hukum syara’. Seandainya ada perintah iman, maka itu hanya pengulangan atas perintah imaqn dengan khitob يأيها الناس. Khitob dengan bentuk pujian seperti ألمؤمنون kadang digunakan atas dasar lahirnya saja tetapi yang dimaksud adalah orang munafik, seperti dalam An-Nur-31. Sedang dalam Al-Mujadalh 12, menurut Az-Zamakhsyari boleh dimaksud orang munafik dan mukmin. Termasuk khitob jenis ini adalah khitob dengan kalimat يأيها النبي/الرسول.

9-      Khitob menghina. Seperti dalam at-tahrim 7 يأيها الذين كفروا dan sura al-kafirun 1. Khitob dengan kata kafir ini tidak terdapat di ayat lain karena mengandung penghinaan. Dan sebaliknya khitob dengan يأيها الذين أمنوا banyak dalam Qur’an. Biasanya ketika mengkhitobi orang kafir, Qur’an menggunakan kata ganti bentuk ketiga, seperti dalam surat al-anfal 38-39.

10-   Khitob penghormatan. Seperti dalam al-a’rof 19 dan al-hijr 46.

11-   Khitob ihaanah (merendahkan). Seperti ungkapan Qur’an pada iblis dalam al-a’raof 19 فإنك رجيم.

12-   Khitob menertawakan. Maksudnya mengejek lawan bicara. Seperti khitob pada Abu Jahl dalam ad-dukhon 49 ذق إنك أنت العزيز الكريم. Karena Abu Jahl pernah berkata: Tidak ada diantar dua gunung ini orang yang lebih mulia dariku. Lihat juga surat at-taubah 34

13-   Khitob jamak (plural/banyak)   berbentuk kata mufrod. Sperti dalam surat al-insyiqaq 6 يأيها الإنسان إنك كا دح, surat al-infithor 6, al-hijr 68. Menurut Ibn Jinni hal ini juga banyak berlaku dalam kata sifat, bukan nama mufrod. Contoh al-furqon 27. Dan sifatnya harus yang sudah seperti nama dalam kekhususannya.

14-   Khitob untuk mufrod/tunggal dengan kata jamak. Seperti dalam Al-Mukminun 51 khitob untuk Nabi saw tetapi dengan lafazh يأيها الرسل, an-nur 22 khitob untuk Abu Bakr tetapi dengan lafazh أولوا الفضل.

15-   Khitob mufrod dan jamak dengan lafzh tatsniyah. Contoh surat Qaf 24 ketika mengkhitobi malaikat Malik penjaga neraka ألقيا في جهنم, menurut Al-Farra’ ayat ini mengkhitobi para penjaga neraka yang banyak. Dan surat Yunus 89.

16-   Khitob untuk dua orang dengan lafazh mufrod. Sperti dalam Thaha 49 فمن ربكما يا موسي, maksudnya juga hai Harun.

17-   Khitob jamak setelah mufrod. Seperti dalam yunus 61 وما تكون في شأن وما تتلو منه من قرءان ولا تعملون من عمل  kata kerja yang ke tiga تعملون berbentuk jamak setelah sebelumnya mufrod تتلو. Penyebutan dengan jamak ini mungkin untuk menunjukkan bahwa semua umatnya masuk atau untuk menghormati. Juga seperti dalam yunus 87.

18-   Khitob dengan nama seseorang , tetapi yang dimaksud orang lain. Seperti dalam al-ahzab:1 dan yunus: 94, khitob kepada nabi tetapi yang dimaksud semua orang mukmin. Kebalikan dari ini yaitu khitob umum tapi yang dimaksdu Nabi saw terdapat juga seperti dalam surat al-ambiya’: 10.

19-   Khitob i’tibar (mengambil hikmah/pelajaran). Sperti dalam surat Al-A’raf: 79 ketika menceritakan Nabi Soleh ketika kaumnya meninggal وقال يا قومي لقد أبلغتكم رسا لتي, karena kaum Nabi Soleh telah meninggal semua ketika nabi Soleh mengucapkan hal itu.

20-   Mengkhitobi seseorang, lalu pindah ke orang lain. Seperti dalam Hud: 14 khitob kepada nabi فإن لم يستجيبوا لكم, kemudian pindah ke orang kafir فاعلموا أنما أنزل بعلم الله.

21-   Khitob talwin(perubahan). Tsa’labi menyebut ini al-mutalawwin dan oleh ahli ilmu ma’ani disebut al-iltifat, seperti dalam surat Ath-Thalaq: 1 يأيها النبي إذا طللقتم النساء, dan juga surat Yunus: 49.

22-   Khitob benda mati, tapi yang dimaksud orang yang berakal. Seperti dalam Fussilat: 11 فقال لها وللأرض ائتيا. Begitu juga dalam Saba’: 10. Tetapi ada perbedaan pendapat dalam khitob jenis ini; benda mati itu dijadikan berakal atau ini dalam bentuk majaz saja.

23-   Khitob tahyiij (dorongan). Seperti Al-Maidah: 23 وعلي الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين. Ini bukan berarti orang yang tidak bertawakkal tidak berima, tapi dorongan untuk bertawakkal. Seperti juga dalm At-Taubah: 13, Yunus: 84, al-anfal: 41 dll.

24-   Khitob yang membuat marah. Seperti dalam Al-Mumtahinah: 9, Al-Kahfi: 50, An-Nisa’: 89 ودوا لو تكفرون كما كفروا….فلا تتخذوا منهم أولياء.

25-   Khitob untuk memberanikan. Ini bertujuan untuk menganjurkan mempunyai karakter yang baik. Seperti dalam Ash_shof: 4 إن الله يحب الذين يقا تلون في سبيل الله.

26-   Khitob untuk menjauhkan dari sesuatu. Seperti dalam al-hujurot : 12 ولا يغتب بعضهم بعضا, أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه.

27-   Khitob kasiha. Seperti dalam Az-Zumar: 53 قل يا عبادي.

28-   Khitob membuat senang. Seperti dalam Maryam: 42, luqman: 16, Thaha: 94 يبنؤم لا تأخذ بلحيتي ولا برأسي.

29-   Khitob melemahkan(tidak mampu bagi orang yang dikhitobi). Seperti Al-baqaroh: 23, Ath-Thur: 34, Hud: 13 قل فأتوا بعشر سور مقله.

30-   Menunjukkan kerugian/penyesalan. Seperti dalam Ali Imron: 119 قل موتوا بغيظكم.

31-   Mengatakan bohong. Dalam Ali Imron: 94, Al-An’am: 150 قل هلم شهدآكم الذين يشهدون.

32-   Khitob kepada yang gak ada. Hal ini dianggap sah lkarena mengikuti pada hal yang ada, seperti dalam Al-A’rof: 26 يا بني آدم, khitob ini untuk orang masa itu dan semua orang setelahnya. Khitob jenis ini menyebabkan permasalah dalam kata kun dalam kalimat كن فيكون, dalam Qur’an dan penciptaan semua alam, perbedaan penafsiran dengan berdasarkan keberadaan khitob nya terjadi antar asy’ariyah dan hanafiyah/maturidiyah.

Advertisement

~ by sceptic minded on July 13, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.