Epistemologi dalam Ghazali
Epistemologi dianggap sebagai cabang terpenting dari filsafat karena filsafat adalah tentang pengetahuan, yang segala tetek-bengeknya dibahas dalam epistemologi. Sehingga cabang filsafat lain, sekalipun ontology tidak akan bisa diselesaikan sebelum permasalahan dalam epistemology diselesaikan.[1] Materi epistemologi sudah dibahas sejak Plato dan Aristo dengan Logikanya, dan baru menjadi pembahasan sistematis dan sentral abad 17 di Eropa oleh Leibniz dan John Lock.[2] Istilah epistemologi sendiri mulai masuk benua Eropa pertengahan abad 19.
Filosof Muslim sendiri tidak menjadikannya cabang filsafat tertentu kecuali setelah abad 20 oleh Ushul al Falsafah dan Falsafatuna. Meskipun demikian bukan berarti materi-materinya tidak dibahas sama sekali. Misbah Yazdi bahkan mengklaim bahwa Islam masih murni pembahasan materi epistemologinya dan belum dicampuri skeptisisme, terutama dalam pembahasan-pembahasan Mantiqnya dan beberapa dalam pembahasan filsafatnya.
Diantara pembahasan epistemologi ditingkat awal adalah: sumber, nilai (benar-salah), dan batas pengetahuan (origin, nature, limit)[3]. Dalam tulisan ini, akan ditelusuri 3 hal tersebut dalam pemikiran Ghazali.
Sumber Pengetahuan
Pengetahuan/ilmu menurut Ghazali tidak bisa didefinisikan (لا حدّ له)[4]. Tapi Dr. Sulaiman Dunya dalam catatan kakinya atas Mi’yar al ‘Ilm, ketika Ghazali mengatakan: إذ لا معني للعلم إلا مثال يحصل في النفس مطابق لما هو مثال له في الحس وهو المعلوم[5], bahwa itu adalah definisi Ghazali atas ilmu, sambil mengkritisi dengan: meskipun memasukkan kata indra, sebenarnya Ghazali mengakui obyek pengetahuan lain selain indra sebagaimana disebutkan di beberapa bukunya. Jadi semstinya, kata indra diganti dengan kata realitas.
Sebagaimana disebutkannya secara ringkas dalam Al-Munqidz min al-Dholal, bahwa pengetahuan yang bersifat yakin hanya ada 2: Mahsusat (indrawi) dan Dloruriyyat (logical necessities)[6]. Dalam Mi’yar al ‘Ilm, Ghazali menunjukkan juga bahwa maujudaat hubungannya dengan pengetahuan ada yang indrawi dan ada yang diketahui dengan argumen (rasio), dengan penjelasan bahwa hal-hal yang diketahui dengan rasio melalui efek-efek hal itu lebih banyak dari pada yang diketahui dengan indra.[7]
Di Al Mankhul disebutkan bahwa pengetahuan ada yang didapat tanpa perantara, seperti pengetahuan tentang diri dan sifat-sifatnya (senang, sedih, dll) dan ada pengetahuan yang menggunakan perantara: indra untuk obyek indrawi, akal untuk hal-hal rasional, dan adat yang berlaku seperti untuk memahami kata dan tanda keadaan (wajah merah untuk marah misalnya.[8])
Apabila keterangan dari 3 buku diatas digabungkan, maka ada 2 yang sama yaitu: indra dan rasio. Lalu Al Mankhul menambah 2 hal lain, yaitu: – pengetahuan tanpa antara (diri dan sifat-sifatnya), – pengetahuan melalui perantara adat (bahasa, dan tentang orang lain).
Timbul pertanyaan: Kalau memang Ghazali mempercayai akal sebagai media dan sumber ilmu kenapa dia menyerang filsafat yang terang-terang menggunakan akal?
Jawabnya: karena Ghazali menyerang kontradiksi yang terjadi atas ajaran-ajaran filsafat zaman itu dengan akal saja. Jadi menurutnya, filsafat telah berbelok dari kepastian-kepastian akal sendiri dengan melanggar aturan-aturan Logika (Mantiq) yang mereka buat sendiri. Dan filsafat saat itu telah menjangkau hal-hal yang sebenarnya menurut Ghazali bukan area akal, tapi area hati[9], yaitu bidang metafisika. Jadi pertempuran di Tahafut al Falasifah bisa dikatakan antara akal murni dan kepercayaan/dogma filosofis.
Pertumbuhan Pengetahuan
Menurut Ghazali, pemberi hukum (pengetahuan, حاكم او مدرك) ada 3: indra, wahm/khayal, dan akal. Akal atau pengetahuan yang didapat dari akal datang belakangan setelah indra dan wahm (khayal, penulis) dalam penciptaannya[10] karena itu manusia cenderung mengikuti indra dan wahm-nya, meskipun yang paling benar adalah akal. Dan indra lebih awal dari pada wahm/khayal[11].
Meskipun urutannya adalah indra, wahm/khayal, lalu akal, tapi akalah yang paling menuju ke kebenaran lalu disusul indra dan wahm/khayal cenderung menunjuk kebenaran yang berasal dari indra dan salah di hal-hal di luar indra[12].
Innate Ideas
Dr. Zaqzuq dalam Al Manhaj-nya memberi catatan kaki ketika mengutip pernyataan Ghazali di Ihya bahwa pengetahuan rasional terbagi menjadi 2: dloruri fithri (bersifat pasti benar dan innate/bawaan?) dan muktasab (didapat dengan berusaha melalui belajar dan argumen), bahwa jenis yang pertama ini berarti membedakan Ghazali dengan John Lock dengan Tabula rasa-nya[13].
Hal itu meskipun dia juga mengutip beberapa pernyataan Ghazali di Ihya’ dan beberapa bukunya yang lain, yang nampak kontra dengan pengakuan Ghazali akan adanya konsep/pengetahuan bawaan sejak lahir diciptakan oleh Allah.
Mari kita lihat sendiri wakil dari 2 kelompok pernyataan Ghazali yang nampak kontra itu:
Pendukung konsep-konsep dloruri adalah bawaan, misalnya Ihya’ jilid 3 hlm. 15:
- وهي تنقسم الي ضرورية لا يدري من اين حصلت و كيف حصلت, كعلم الإنسان بان الشخص الواحد لا يكون حادثا قديما موجودا معدوما معا, فإن هذه علوم يجد الإنسان نفسه منذ الصبا مفطورا عليها, ولا يدري متي حصل له هذا العلم ولا من اين حصل له, اعني انه لا يدري له سببا فريبا و إلا فلا يخفي عليه أن الله هو الذي خلقه و هداه.
Menurut Zaqzuq pernyataan ‘Allah menciptanya/ أن الله هو الذي خلقه و هداه’ ini mengandung makna bahwa Allah jugalah yang menciptakan pengetahuan-pengetahuan dloruriyyah ini.
Pernyataan yang bertentangan diantaranya di Ihya’ jilid 3 hlm. 69:
- و قلبه (اي الطفل) الطاهر جوهرة نفيسة ساذجة خالية عن كل نقش و صورة, وهو قابل لكل ما نقش و مائل الي كل ما يمال به اليه.
Menurut Zaqzuq, pernyataan seperti diatas hanya merupakan isyarat perkembangan jiwa/diri seorang anak, bukan tentang konsep-konsep dloruri.
Nampaknya –menurut penulis- lebih banyak pernyataan Ghazali yang mendukung bahwa dia tidak menyatakan adanya innate ideas. Diantaranya:
- Definisinya atas akal di Al Mankhul hlm. 45 dengan: sifat yang dengannya orang bisa menemukan pengetahuan dan berfikir hal-hal rasional. Akal merupakan alat menemukan pengetahuan, berarti sebelumnya tak berpengetahuan, tidak ada ide bawaan.
- Keterangan Ghazali tentang pengetahuan dloruri ini dalam Mi’yar al-‘Ilm hlm. 186-7, bahwa konsep kemustahilan kontradiksi yang dloruri itu (yang disebutkan sebagai contoh dalam Ihya’ dan dikasih predikat, diciptakan Allah melalui sebab jauh, secara tadlomun menurut Zaqzuq) termasuk dalam kelompok pengetahuan yang disebutnya dengan al awwaliyyat al aqliyyah al mahdloh, yaitu proposisi-proposisi yang terjadi pada manusia karena potensi akalnya saja, tanpa ada makna lain yang menjadikannya membenarkan proposisi-proposisi tadi. Tapi proposisi-proposisi tadi memiliki konsep-konsep sederhana yang apabila telah diterima akal –baik dengan perantara indra, imaginasi, atau yang lain- dan dijadikan proposisi, maka akal pasti membenarkannya Tanpa berpikir bagaimana dia mendapatkan pembenarannya, bahkan dia Merasa telah mengetahuinya Selamanya.
Jelaslah bahwa kemustahilan kontardiksi diatas didapat dari konsep sederhana dari hal diluar akal: indra, imajinasi, atau hal lain. Berarti bukan bawaan. Pernyataan ‘Tidak tahu darimana dan kapan’ dalam Ihya’ hanya perasaan saja untuk mengukuhkan bahwa kebenarannya adalah hal yang pasti diterima akal.
Lalu bagaimana dengan pernyataan bahwa ini Fithri (dalam Ihya’: منذ الصبا مفطورا عليها) ? Konsep fitri sebenarnya bukan berarti bawaan. Sebagaimana penjelasan Murtaza Muthahari di komentar atas Ushul al Falsafah (hlm. 327-8) bahwa kata fithrah memiliki 4 makna, yaitu pengetahuan yang:
A- penolakan/penerimaannya sama semua manusia (seperti keberadaan dunia luar mental, dan kemustahilan kontradiksi, dalam Ushul jilid 2, maqolah 7),
B- ada secara potensi di akal setiap orang (seperti ilmu-ilmu yang sudah didapat dengan ilm hudluri, pengetahuan tentang tuhan termasuk jenis ini),
C- argumennya ada didalam dirinya (seperti dua itu setengah dari 4),
D- hanya berdasarkan akal (innate/bawaan, menurut Sadrian tidak ada).
Kausalitas
Kausalitas dalam pandangan Ghazali dibahas tersendiri oleh Dr. Zaqzuq dari hlm. 141-146. Intinya bahwa kausalitas filosofis tetap dipercaya sebagai konsep yang benar bahkan menjadi dasar argumen keberadaan Tuhan. Seperti ketika Ghazali menulis sebagai orang yang mirip Asy’ariyyahan dalam buku teologi atau dalam Tahafut sendiri, yaitu konsep: Setiap yang baru ada yang menyebabkan. Ini dipakai dan diakui oleh Ghazali. Kausalitas yang dibicarakan ditolak oleh Ghazali adalah sebab-akibat di dunia materi. Seperti api-membakar dan pisau-memotong.
Hubungan 2 kejadian itu menurut Ghazali bukan proposisi dloruri, tapi proposisi Mujarrobaat. Hubungan antara sebab-akibat di dunia materi bukanlah hubungan yang dloruri/pasti setingkat awwaliyyat (seperti kemustahilan kontradiksi.) tapi bukan berarti Ghazali tidak mempercayai hubungan sebab-akibat materi. Bahkan proposisi jenis Mujorrobat (sebab-akibat materi) ini adalah yang ke-3 dari 4 proposisi yang yaqiniyyah shoodiqoh, wajibatul-qobuuli (bersifat yakin, benar, dan harus diterima). Dan proposisi jenis ini bisa dijadikan materi silogisme, kejadian yakinnya mirip dengan khabar mutawatir, yaitu bisa berkadar pasti atau mayoritas.[14]
Perbedaan antara kausalita filosofis dan kausalitas materi (mujarrobat)adalah:
| no |
Nama |
perbedaan |
|
Persamaan |
| Media |
keputusan |
Sudut pandang |
|
|
| 1 |
Kausalitas filosofis |
Akal |
Dloruri |
Hubungan itu sendiri |
|
Sama-sama benar, bersifat yakin, dan harus diterima |
| 2 |
Kausalitas materi (mujarrobat) |
indra |
Jazmi atau aktsari |
hubungan itu dari mana |
|
Kebenaran menurut Ghazali
Menurut Ghazali kebenaran (العلم اليقيني) hanya bisa diukur dengan akal, tidak dengan indra dan khayalan/imajinasi (wahm).
Ilmu yakin didefinisikan oleh Ghazali dengan: هو الذي ينكشف فيه المعلوم انكشافا لا يبقي معه ريب, و لا يقارنه امكان الغلط[15]. Seperti 3 lebih kecil dari 6, dan 1 orang tdk mungkin berada di 2 tempat dalam masa yg sama[16]. Meskipun ada orang yang mengatakan kebalikan dua pernyataan tadi dengan bukti dia bisa merubah ular menjadi batu, keyakinan atas kebenarannya tidak akan hilang.
Setelah meragukan indra lalu akal, Ghazali menyebutkan dalam Al Munqidz bahwa Cahaya dari Allah telah menempatkannya pada keyakinan. Cahaya disini menurut Dr.Zaqzuq[17] adalah pengetahuan-pengetahuan yang diketahui dengan secara hadas (intuitif, cepat maksudnya dan tanpa argumen) dengan cara belajar rasionalis, tidak hadir begitu saja ke semua manusia, tapi tanda-tandanya yaitu: tidak mungkin diragukan, tidak mungkin diajarkan kepada orang lain tapi hanya bisa dijelaskan bagaimana cara mendapatkannya.
Pengetahuan hadas ini dianggap Ghazali seperti cahaya yang dia gunakan untuk melihat kebenaran pengetahuan yang lain. Panca indra dan indra lain seperti imajinasi hanya dianggap mata-mata yang memberikan kabar pada akal.
Walaupun begitu Ghazali tetap membagi obyek pengetahuan menjadi 2: indrawi dan rasioanal, tapi obyek indrawi selalu mendapatkan pancaran cahaya akal tadi.
Pengetahuan rasioanl ada 2: innate/fithri, tidak diketahui sebab dekatnya tapi sebab jauhnya dipastikan adalah Allah. Dan ke-2 pengetahuan rasional yang dicari dengan argumen.[18] Karena itu menurut Zaqzuq , Ghazali tida seperti John Lock dengan tabula rasanya.
Ghazali secara tidak langsung mengatakan sumber pengetahuan dengan menyebutkan jenis-jenis pengetahuan sesuai dengan tingkat kejelasannya[19]:
- Pengetahuan tentang diri, rasa sakit, dan rasa senang.
- Pengetahuan tentang kebenaran 2 pernyataan kontradiksi
- Pengetahuan inderawi
- Pengetahuan dari kabar mutawatir
- Pengetahuan dari ungkapan seseorang dan tanda-tanda marah, malu, dan takut orang lain
- Pengetahuan untuk membuat, knowledge of how
- Pengetahuan tentang teori-teori
- Pengetahuan tentang kenabian
- Pengetahuan atas mukjizat
- Pengetahuan yang didapat dengan taklid
Setelah menyebutkan 10 jenis diatas, Ghazali menyatakan bahwa لكل علم مستند من البديهة و الضرورة, setiap pengetahuan punya sandaran/landasan pada pengetahuan yang dloruri atau intuitif. Ini berarti Ghazali bisa dikelompokkan pada Foundtionalism dalam klasifikasi Epistemologi di Barat.
Batas Pengetahuan
Tentang indra, Ghazali dalam Misykat al Anwar, menyebutkan kelemahan 7 kelemahan indra terkuat, yaitu mata. Kelemahan itu: tidak bisa melihat dirinya, tidak bisa mengenal obyek yang terlalu jauh/dekat, tidak bisa mengenal obyek yang tertutup, hanya bisa mengenal lahiriyah obyek, setiap indra hanya bisa mengenali yang sesuai dengan tugasnya, tidak bisa mengenal obyek yangtak-terbatas, dan ke-7 terkadang tertipu, seperti benda besar terlihat kecil.
semua kelemahan itu bisa dihadapi oleh akal.
Kalau mungkin menyebut kelamahan akal hanya dengan menyebutkan bahwa baik-buruk itu menurut Ghazali bukan hasil dari akal tapi Wahyu.[20]
Baca Al manhaj al alsafi baina Descartes wa Ghazali oleh Dr. Zaqzuq halaman 131 /133 pdf
NOTE:
- Kata wujud menurut Ghazali termasuk kata yang Musyakkak bil aula wal ahra dan bi at-taqaddum dan taakkhur,tidak dalam dlu’f wa quwwah (Mi’yar Al ilm hlm. 82/41 pdf).
Tapi dalam Al haqiqoh indal Ghazali hlm.165/82 pdf, menukil dari Ma’arij al Quds karangan Ghazali, dinukil bahwa Ghazali bilang semua sifat Allah bersifat Isytirok tidak tawathu’.
[1] Lihat Philosophical Instructions, oleh Ayatollah M. Taqi Misbah Yazdi, IGCS Binghamton University USA 1999, hlm. 85 dan Dictionary of Philosophy.
[2] Philosophical Instructions, hlm. 87.
[3] Ketiga-tiganya disebutkan dalam pembukaan Ushush al Falsafah oleh Allamah Tabatabai, oleh Ammar Abu Raghif dan dua yang pertama disebutkan dalam Pengantar Filsafat oleh Louis O. Kattsoff terjemahan Soejono Soemargono, Tiara Wacana Yogya 2004, hlm. 74-74
[4] Al Mankhul min Ta’liqat al Ushul, oleh Ghazali, editan M. Hasan Hito, hlm. 40
[5] Mi’ya al Ilm, Ghazali, hlm. 76. Mungkin apa yang disebutkan Ghazali di halaman 76 ini bisa dikatakan sebagaimana apa yang dikatakan oleh Sadrian yang mengatakan bahwa Ilmu itu takterdefinisikan dan apabila ada definisi disebutkan itu hanya difungsikan untuk membedakan denotasi/instansinya dan juga karakternya, lihat misalnya Bidayah al Hidayah oleh Allamah Tabatabai dalam bab Marhalah 11 dan Philosophical Instructions oleh M.T.M Yazdi dalam Bab Epistemology, hlm. 90-91
[6] Al Munqidz, Ghazali, cet.6, Dar Andalus Beirut, hlm. 65-68
[7] Mi’yar al ‘Ilm (bagian Mantiq dari Tahafut al Falasifah), oleh Ghazali, editan Dr. Sulaiman Dunya (sisten profesor fakultas Ushuluddin), Dar Al Ma’arif Mesir 1961, hlm. 89-90
[8] Mankhul hlm. 51. Menarik untuk mengetahui bahwa ada ilmu/pengetahuan yang didapat tanpa perantara ini dan isinya adalah diri dan sifat-sifatnya karena ke-2 jenis pengetahuan ini memang dalam Sadrian tanpa alat dan disebut sebagai ilm hudluri, meski bisa juga didapat dengan ilm hushuli setelahnya. Lihat komentar Murtaza Muthahhari atas Ushul al Falsafah milik Allamah Tabatabai terjemahan Ammar Abu Raghif, hlm. 341
[9] Lihat Al Haqiqoh fi Nazhor al Ghazali, oleh Dr. Sulaiman Dunya, Dar Al Ma’arif Mesir 1965, hlm. 38-40 dan Al Munqidz dalam pembahasan Filosof dan Al Manhaj al Falsafi: baina Ghazali wa Descartes, oleh Dr.Mahmud Hamdi Zaqzuq, Dar Al Ma’arif Kairo 1997, hlm. 51 dan 60
[10] Mi’yar al Ilm, Ghazali, Mesir, hlm. 62.
[12] Al Manhaj, Zaqzuq, hlm. 138 menukil dari beberapa buku Ghazali diantaranya Mi’yar al Ilm hlm. 63.
[14] Lihat Mi’yar al Ilm hlm. 186-191
[15] Al Munqidz, Ghazali, hlm. 64
[16] Definisi ini memasukkan Ghazali dalam kelompok Rasional dalam Epistemologi sebagaimana klasifikasi dalam Pengantar Filsafat oleh Louis O. Katsoff hlm. 136-7 bahwa Rasionalis adalah yang mendefinisikan kebenaran dengan, ‘Kemustahilan untuk mengingkari atau untuk dipahamkan sebaliknya.’
[17] Al Manhaj Al Falsafi hlm. 105-109. Penafsiran Dr. Zaqzuq atas kata Cahaya dari Allah yang menyebabkan keyakinan Ghazali kembali dengan Pengtahuan-pengetahuan yang intuitif yang benar ini mirip kebenaran rasionalis yang digambarkan sebagai cahaya yang terang dari akal budi oleh Louis O. Katsoff dalam Pengantar Filsafat hlm. 135
[18] al manhaj al falsafi inda descartes wa ghazali, hlm. 135-6
[19] Dalam Al-Ghazali: A Study on Islamic Epistemolgy, by Mustafa Abu-Sway, Kuala Lumpur, 1996, hlm. 43-52
Posted in FILSAFAT
Tags: Epistemologi, Ghazali